Menghadirkan kesadaran setiap saat

Sudah lama ingin menulis hal ini, tapi seringkali lupa begitu saja saat di depan komputer. Entah kenapa kali ini teringat kembali. Ceritanya bermula dari seringnya saya menemukan mahasiswa yang berjalan dengan santai di tengah jalan sambil bercengkerama dengan sesamanya. Berkali-kali saya temukan perilaku mahasiswa seperti ini. Barangkali mereka merasa bahwa pejalan kaki harus dihormati. Tapi apa begitu ya?

Satu hal yang sangat menonjol sekarang ini. Apa-apa menjadi boleh, euphoria barangkali istilah kerennya. Yang tadinya dianggap tabu, sekarang tidak. Yang dulunya dianggap tidak sopan, sekarang enggak. Sepertinya semua serba kebablasan. Termasuk itu tadi, hak berjalan bisa di mana saja, semau saya. tidak hanya di kampus. Lihatlah di depan BIP, jembatan penyeberangan hanya menjadi tempelan untuk layar lebar iklan. Polisi atau petugas pun pasrah dan jera mengingatkan orang untuk tidak menyeberang sembarangan.

Kalaulah mereka sengaja melakukannya berarti kita perlu merombak budaya kita besar-besaran. Hal ini menunjukkan semua orang tidak peduli lagi dengan aturan, norma atau konvensi yang ada. Semua melakukan apa yang diinginkan, terserah pada yang lain. Kalaulah mereka tidak sengaja, berarti mereka tidak sadar akan keberadaan dirinya saat itu. Seolah kita berada di dunia sendiri. Apapun kondisinya, kita sering lupa memang dengan keberadaan diri kita. kalau secara fisik di jalan raya saja kita sudah lupa, apalagi kesadaran terhadap diri di tengah kehidupan ini yang sangat abstrak. Siksa neraka tidak kelihatan, siksa dunia diabaikan.

Beruntunglah sebagai muslim yang diwajibkan untuk merefresh kesadaran dirinya dengan shalat 5 waktu sehari. Pemilihan waktunya pun luar biasa tepat, saat orang tidur, saat orang lelah, saat orang mulai beristirahat. Walaupun proses refresh kesadaran ini bukan pekerjaan mudah karena godaan selalu datang, semoga dari waktu ke waktu kesadaran itu akan menjadi bagian diri yang selalu hadir sehingga tidak perlu lagi kita berpikir keras untuk bertindak. Semua menjadi otomatis lahir karena kesadaran sebagai makhluk, sebagai warga dunia, sebagai anggota masyarakat, sebagai apapun kita. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: