Manajemen berbasis data

Beberapa hari ini saya menikmati siaran langsung acara olahraga mulai dari perancis terbuka, piala eropa, dan cuplikan final NBA. Selain memang pertandingannya menarik – rivalitas Nadal dan Federer, Celtics dan Lakers, ataupun tim-tim sepakbola di eropa – acara-acara ini menunjukkan apa yang sebenarnya dikenal dengan fact-based management (manajemen berbasis data/fakta). Cobalah tengok statistik dalam sepak bola, berapa tendangan ke arah gawang, gol, freekick, kartu dsb; dalam tenis ada data unforced errors, aces dsb, dalam basket juga sama. Intinya apa yang terjadi detik demi detik mereka rekam datanya. Dunia olah raga sudah lama menerapkan semua ini sehingga mereka tahu siapa yang sudah membela tim lebih dari 100 kali, siapa yang sudah mencapai point tertentu dalam basket, bahkan sampai hal terkecil misalnya siapa yang main bola tercepat (masuk dan kemudian diganti). LUAR BIASA!!!

Bagaimana dengan manajemen di perusahaan atau organisasi? di Indonesia? Jujur saja kita masih perlu belajar dari bagaimana olah raga di dunia dikelola. Kita masih sering menggunakan “katanya”, “kayaknya”, “rasanya” untuk berargumentasi. Seringkali data tidak tersedia saat kita hendak menganalisis sesuatu. Barangkali itu pulalah penyebab mengapa kita tidak terbiasa dengan analisis karena memang data tidak tersedia. Atau mungkin hal sebaliknya terjadi, karena kita tidak biasa menganalisis maka data tidak kita perlukan. Jadi ribet kan?

Keluhan masyarakat soal sampah berulang kali, soal transportasi beribu kali, soal pungli entah berapa kali, tapi itu semua tidak terdata kecuali kita tahu bahwa itu sudah terjadi berkali-kali. Berapa banyak orang yang kita tolak pesanannya hari ini, berapa banyak telepon yang tidak terlayani hari ini, berapa banyak orang terlambat, berapa banyak orang yang cuti dan lain sebagainya seringkali luput dari perhatian kita. Data ini baru dicari saat diperlukan, saat terjadi audit, saat dievaluasi yang boleh jadi sudah entah ke mana (kalau pun ada).

Banyak resource yang terbuang gara-gara kita mencari data yang tidak pernah kita kumpulkan. Pekerjaan mencari adalah pekerjaan yang tidak produktif. bayangkan kalau kegiatan ini dilakukan banyak orang berulang kali, sungguh merupakan suatu pemborosan yang luar biasa besarnya. Tidak hanya tenaga dan waktu, uang pun bisa terkuras karena mencari data. Pendek kata kalau data sejak awal sudah tersedia maka banyak saving yang bisa kita lakukan.

Oleh karena itu sudah saatnya siapa saja, di mana saja untuk selalu peduli dengan data. Kalau sudah dirancang maka kita tinggal mengisi datanya, tapi kalau belum maka segeralah merancang data apa yang diperlukan dan bagaimana formatnya. Saling mengingatkan untuk terus merekam data dan menyimpannya di tempat yang tepat. Mudah-mudahan kapan waktu kita butuhkan, data tersebut tinggal ditampilkan, bukan dicari…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: