Deal dengan bawahan

Suatu ketika dalam sebuah rapat ada karyawan baru yang harus melaporkan progres pekerjaan di unitnya. Karena barunya tentu saja masih banyak hal yang belum diketahui. Masalahnya, beberapa deadline sudah hampir tiba. Kontan saja sang karyawan gugup di”hajar” oleh pimpinan rapat karena banyak hal belum terselesaikan dengan waktu yang tinggal beberapa saat lagi. Hmmm, bijakkah kebiasaan pimpinan seperti ini?

Beberapa hari yang lalu saya mendengar di radio acara bincang-bincang dengan James Gwee. Karena tidak mengikuti dari awal saya tidak tahu topik yang dibicarakan. Tetapi satu hal yang saya catat bahwa ketika kita ingin meminta pertanggungjawaban dari bawahan atau mengevaluasi kinerja bawahan, hal pertama yang harus dilakukan kata James Gwee adalah tanya pada diri kita pernahkah kita menjelaskan ekspektasi kita tentang pekerjaan yang diberikan. Pernahkah kita menjelaskan dengan baik apa yang kita minta, apa yang harus karyawan hasilkan dalam kurun waktu yang diberikan, prioritas pekerjaan jika ada cukup banyak pekerjaan. Tanpa hal ini, 70% masalah ada pada diri kita, bukan karyawan.

Saya sepakat sekali soal ini. Terlalu sering atasan atau pimpinan hanya menuntut tapi tidak pernah memberi, walau hanya memberi penjelasan. Segala sesuatu harus sudah dipahami terserah bagaimana caranya. Bukankah ini cara yang tidak bijak? Hubungan yang terbentuk pun sudah pasti tidak baik. Bawahan pasti mengerjakan pekerjaannya hanya karena terpaksa sampai menemukan tempat yang lebih baik.

Hemat saya seharusnya kalaupun sudah diberi tahu tapi masih tetap salah maka tanggung jawab pimpinan untuk memberitahu cara yang benar. Output yang diminta bisa saja dapat dilakukan dengan berbagai cara. Nah, cara yang dipilih karyawan belum tentu yang paling efisien mengingat pengetahuan dan pengalamannya mungkin belum banyak. Di saat seperti ini pimpinan harus menjelaskan tidak hanya outputnya, tapi juga caranya.

Kita bekerja bukan hanya untuk meraih keuntungan semata. Membangun sumber daya manusia yang handal juga bagian dari kontribusi kita pada masyarakat. Apalagi kalau dilihat dari kacamata amal, menyebarkan pengetahuan, mempermudah pekerjaan orang dsb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: