Pelajaran dari Piala Eropa

Perhelatan kompetisi bola dunia memang selalu menarik perhatian. Piala dunia, piala eropa, piala champion, dan banyak piala lainnya pasti menguras perhatian orang di seluruh muka bumi ini. Bagi saya sendiri peristiwa semacam ini sering dijadikan media refleksi terhadap apa yang kita jalani sehari-hari. Saya yakin drama dalam sepak bola adalah miniatur dari drama kehidupan sehari-hari.

Pelajaran pertama yang diperoleh dari piala eropa pastinya ada yang menang dan ada yang kalah. Tidak ada tim yang selalu menang. Ada saja saat sebuah tim kalah, baik karena lawannya lebih unggul maupun karena kesalahan sendiri yang sedang tidak siap atau salah strategi. Fenomena ini sangat relevan kalau dijadikan cermin hidup, tidak pernah ada cerita sukses melulu. Ada saat-saat kita diingatkan Allah dengan cara “kalah” di mata kita. Bisnis rugi, nilai jelek, sakit, dan banyak lagi hal yang Allah ciptakan untuk menciptakan kekalahan pada kita.

Pelajaran kedua, Ada tim yang bisa bangkit dari kekalahan, ada yang tidak, dan ada yang terlena dengan kemenangan. Dari hasil perdepalan final, cuma spanyol satu-satunya juara grup yang masuk semi final. Kroasia dan Belanda yang menang terus di babak penyisihan ternyata harus menelan pil pahit, Portugal yang juga di atas angin walau sempat kalah di babak penyisihan (itu pun karena sudah tidak menentukan lagi) mengalami hal yang sama. Sebaliknya Rusia, Jerman, Turki menunjukkan kelas sebagai tim bermental juara. Kekalahan tidak berarti tamat. Ini menunjukkan bahwa bangkit dari kekalahan hidup bukan sesuatu yang mustahil. Selama ada kemauan, pasti ada jalan, bukan begitu kata pepatah?

Pelajaran ketiga, Sejarah hanyalah sejarah. Catatan masa lalu tidak dapat dijadikan pegangan untuk terus maju. Kalau melihat sejarah, Rusia tidak ada apa-apanya dibanding belanda. Dengan hasil penyisihan yang luar biasa, plus catatan kemenangan belanda atas rusia sebelumnya (dan kenangan gol Van Basten saat jadi pemain ke gawang rinat desayef), sedikit yang memperkirakan Rusia bisa menandingi Belanda. Tapi hasilnya bercerita lain. Hidup adalah soal masa depan, masa depan ditentukan hari ini, bukan masa lalu.

pelajaran keempat, satu lagi cerita sukses hiddink membuktikan tim underdog kalau dipoles dengan tangan yang tepat, hasilnya luar biasa. Ini cerita soal pemimpin. Kalau pemimpin berhasil membina timnya, tim yang lemah pun akan menghasilkan sinergi yang luar biasa. 1 + 1 dalam manajemen tidak harus 2, mungkin bisa berlipat-lipat melebihi 2, apalagi 11+1?

Oh ya, kalau tidak salah, Rusia adalah tim yang anggotanya paling banyak main dalam liga lokal. Apa artinya? selama kompetisi lokal digarap dengan baik, hasilnya tidak lebih buruk daripada kita mengundang banyak pemain asing tapi tidak dikelola dengan baik. Ini cermin soal internasionalisasi, keberadaan orang asing belum tentu berarti positif. Mental dalam diri yang ingin go internasional-lah yang lebih menentukan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: