Take The Lead

Untuk meredakan pressure selama minggu lalu, saya menenangkan diri sambil menonton film di HBO kalau tidak salah. Malam itu saya menonton film Take The Lead (juga kalau tidak salah he he). Tadinya saya tidak tertarik karena judul dan bintangnya bukan kesukaan saya. Tapi nama Antonio Banderas boleh juga saya pikir. Ternyata saya menemukan hal penting dan seperti biasa reminder-reminder untuk selalu berbenah…

Di film ini diceritakan seorang penari dansa (salsa, tango, dan macam2 lagi lah) menawarkan diri untuk mengajar keahliannya ini kepada murid-murid buangan di satu sekolah. Mereka benar-benar buangan dalam hal ruangan yang terpisah, prestasi nihil, background keluarga kacau balau. Singkat cerita sang kepala sekolah dengan senang hati menerima tawaran Mr. Pierre Dulaine (antonio banderas) dengan maksud paling tidak ada yang mengawasi anak-anak buangan itu.

Seperti biasa, awalnya banyak penolakan dari anak-anak itu terhadap materi dansa yang menurut mereka tidak mereka butuhkan. selain musiknya tidak modern, juga karena sang guru sangat berbeda dengan mereka. Datang dengan setelan jas necis dan mahal, sementara mereka serba kekurangan. Bahkan ada yang bekerja di tempat sampah untuk menambah penghasilan orang tuanya. Jadi ibarat bumi dan langit.

Sampai akhirnya ada momen di mana mereka ditantang untuk berbuat lebih baik, bahwa mereka juga bisa menari sebaik orang-orang kaya yang meremehkan mereka. Dengan semangat menggebu-gebu dan kerja keras, akhirnya mereka bisa tampil di sebuah kompetisi dan memukau semua orang.

Moral filmnya sebenarnya standar yaitu bahwa kalau kita kerja keras pasti kita bisa meraih apa yang kita inginkan. Sang guru mengajarkan siapa saja bisa memiliki apartemen yang bagus. Muridnya menggeleng, dan berkata “tidak semua orang bisa”. Dengan bijak Mr. Dulaine membalas, “memang tidak semua orang bisa. hanya orang yang mau saja yang mendapatkannya”. Jadi jelas semua ada di dalam diri, bukan di luar sana. kondisi miskin, tidak pintar, tidak menjadi penghalang untuk mencapai sesuatu yang luar biasa. kita pasti bisa.

Ada satu lagi yang pelajaran yang saya terima. ini soal kepemimpinan. ketika seorang wanita menolak untuk mengikuti seorang laki-laki memimpin dansanya, sang guru berfilosofi. Begini kira-kira intinya. Pemimpin pada dasarnya membawa orang yang dipimpinnya mencapai tujuan. Tidak ada urusan siapa lebih hebat atau lebih tinggi dari yang lain. Agar berhasil (dansanya serasi), orang yang dipimpin harus mengikuti dengan kecepatan yang sama. artinya yang dipimpin juga harus hebat. Oleh karena itu organisasi memang harus berjalan sebagai tim yang semua anggotanya bergerak dengan kecepatan yang sama menuju tujuan.

Tidak ada pemimpin hebat sendiri. Pasti ada tim yang hebat juga dibalik itu. Kehebatan pemimpin justru dilihat dari bagaimana dia menggerakkan yang dipimpin sehingga bersama-sama maju. Jadi salah besar jika ada pemimpin yang memarahi bawahannya saja. Tugasnyalah menyadarkan dan memotivasi bawahan sehingga memiliki semangat dan irama yang sama.

3 Responses to Take The Lead

  1. ira says:

    kalo tim nya oke tapi pemimpinnya parah, gimana dong? hehehe…. ;p
    sing sabar ya Pak….

  2. Mursyid Hasanbasri says:

    wah itu udah melanggar aturan 0 (nol) bahwa pemimpin haruslah orang terbaik di tim itu. itu pandangan saya. insya Allah sabar mbak.

  3. ubadbmarko says:

    Banyak orang berambisi jadi pemimpin, jadi pemimpin enak kok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: