Integritas

Kemarin minggu saya diundang adik-adik dari asrama belitung yang mengadakan acara sharing pengalaman untuk mereka yang akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Temanya cukup sulit, yaitu tentang “mahasiswa berintegritas” bukan karena kontennya, tapi karena prakteknya jauh lebih sulit dari mengatakannya.

Secara harfiah integritas dapat diartikan dengan banyak kata sifat yang lain seperti jujur, tanggung jawab, dapat dipercaya, konsisten, utuh. Memang dari segi bahasa berasal dari integer untuk mewakili sebuah kelengkapan (completeness). Tidak hanya lengkap dari A sampai Z, tapi juga di setiap komponennya, integritas berarti dari waktu ke waktu nilainya tidak berubah. Jadi kalau 5 tahun lalu orang mengatakan A1, sekarang mesti A1 juga, dan 10 tahun lagi A1 juga. Singkatnya saya beranggapan orang yang memiliki integritas selain jujur dan dipercaya pada semua bidang, juga kejujurannya itu konsisten dari waktu ke waktu.

Kalau bicara integritas, maka hal yang paling dekat dengannya adalah kepemimpinan. Integritas merupakan ciri utama dari kepemimpinan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki integritas. Pemimpin yang tidak bicara mencla mencle, jujur, dan dapat dipercaya.

Ada pertanyaan, bagaimana menerapkan integritas ini padahal tidak semua orang menjadi pemimpin? Kalau dilihat dari posisi atau jabatan memang tidak semua orang memilikinya. Tapi kalau dilihat dari hakikatnya, semua orang adalah pemimpin. Paling tidak pemimpin bagi dirinya [Hadits Bukhari Muslim no sekian, lupa]. Oleh karena itu setiap orang bisa dan harus mengaplikasikan persoalan integritas ini dalam dirinya, kapan dan di mana saja. Jadi bukan hanya untuk pemimpin kelompok, organisasi atau negara saja.

Bagaimana kaitannya dengan mahasiswa? Saya melihat bahwa mahasiswa adalah masa yang tepat untuk melatih menumbuhkan integritas. Jika sewaktu di SD sampai SMA kita bisa belajar mengenai integritas, tidak banyak kesempatan untuk menerapkannya secara utuh. Banyak hal yang belum kita pertanggungjawabkan secara penuh. masih ada orang tua, kakak, guru dsb yang mengambil peran-peran penting dalam hidup kita. Nah saat jadi mahasiswa, hampir semua peran kemudian beralih kepada kita. Jadi masa-masa mahasiswa adalah masa kritis untuk berseminya integritas dalam diri.

Sebagai mahasiswa tinggal di asrama kita perlu memiliki integritas. Malu kah kita jika kita menggunakan hak atas air, listrik, telpon melebihi uang yang kita bayarkan setiap bulan? Sebagai mahasiswa di rantau, malu kah kita jika kita menghamburkan uang kiriman orang tua? sebagai mahasiswa di kelas, malu kah kita jika kita masih nyontek, menitipkan tanda tangan kehadiran, perjokian, dan segala bentuk kecurangan lainnya? Malu kah kita jika kita berdemo untuk mendapatkan amplop? dan masih banyak lagi ujian terhadap integritas pada saat menjadi mahasiswa.

Integritas menyangkut track record. Semakin baik dan konsisten track record kita, maka integritas akan kita miliki. Orang yang memiliki integritas akan bernilai di mana pun dia berada. Tidak di tempat bersih, di tempat kotor pun tetap penilaian orang akan sama. Orang semacam ini yang perlu dipilih sebagai pemimpin, bukan orang yang tidak ambil pusing ketika memalsukan ijazahnya. Memang tidak mudah untuk konsisten baik, tapi berupaya tetap konsisten adalah bagian penting untuk tetap memiliki integritas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: