Cuti yang dirindukan

Alhamdulillah, minggu lalu saya bisa mengambil cuti yang sebenarnya, ya cuti dengan berlibur bersama keluarga. Walau tidak sesuai dengan niat awal pulang ke bangka, ke yogya juga jadilah. Pada akhirnya cuti tidak hanya urusan lepas dari rutinitas, tetapi juga sarana untuk silaturahmi dengan sanak keluarga. Waktunya juga pas, anak yang minggu-minggu sebelumnya cukup jenuh tinggal di rumah selama libur, akhirnya bisa berjalan-jalan sambil melihat dunia luar. Istri juga mendapat manfaat karena bisa off dari urusan keseharian di rumah, nggak perlu masak, jagain anak sendiri, nyuci setrika dsb. intinya alhamdulillah.

Sesuatu yang menyenangkan bisa berkunjung ke sanak keluarga yang biasa hanya ketemu saat lebaran dan ketemunya di Bandung. Memang capek dari segi fisik karena perjalanan saja butuh 1 malam, bolak balik jadi 2 malam. Tapi lelahnya fisik terobati dengan senangnya hati. Hati senang bisa berbagi dengan keponakan, membicarakan hal-hal yang simple, jauh dari kompromi “politik”, tidak ada dendam, tidak ada dengki dsb.

Tia panggilan keponakan yang masih SMP kelas 2. Entah apa penyakitnya, tapi Tia tidak bisa berjalan normal seperti teman-temannya yang lain. jari-jari kakinya seolah menciut menggulung saat hendak berjalan, seolah takut bersentuhan dengan bumi. Jadinya jalannya terseok-seok. Sedih memang kalau melihat fisiknya, apalagi untuk seorang anak perempuan. Tapi jangan salah soal sikap, Tia justru yang paling supel. Memang pelajarannya sedikit tertinggal. Tapi sikapnya yang ramah pada orang lain, tidak pernah murung, bahkan sepanjang hari ceria. Istri saya suka geleng-geleng kepala saat kita mengeluh karena satu hal, Tia justru menghibur “buat apa mikir susah-susah, yang gampang aja”, katanya sedikit menasehati.

Tidak ada sedikit pun kesan bahwa ada kekurangan dari dirinya, itu yang saya sukai pada keponakan satu ini. Bermain dan bercengkerama dengannya membuat hidup lebih tenang, jujur, tanpa topeng. Logat jawanya yang medok disertai ketulusan hati terasa makin halus. Entah bagaimana kalau dunia ini dipenuhi dengan orang-orang semacam Tia.

Dua tiga hari terasa sangat cepat. sewaktu pulang, sembari menunggu kereta jalan Tia berdiri melambai terus dari dekat jendela dan mencoba memanggil Aina yang baru pertama kali saya bawa ke yogya. Selalu saja ada yang hilang ketika harus pulang lagi ke Bandung. Saya ingat betul sejak masih SMP main ke yogya mengunjungi kakaknya TIa yang masih bayi sampai sekarang perasaan kehilangan itu masih terasa. Cuti ini benar-benar merefresh mental saya, menjadi sesuatu yang patut dirindukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: