Catatan dari techno-tour ITB Mandiri

Kemarin saya mengikuti “techno-tour” yang diselenggarakan Bank Mandiri, bekerja sama dengan ITB. Saya sendiri ikut tanpa pengetahuan yang jelas maksud dan tujuan acara tersebut. Yang jelas saya coba menikmati saja perjalanan itu. Dan benar saja, saya dapat pelajaran lagi dari perjalanan kemarin.

Berikut ini catatan saya tentang perjalanan kemarin:

1. Ternyata budaya tepat waktu belum sepenuhnya dianut oleh para dosen ITB yang terhormat. Dijadwalkan jam 7.30 kumpul, masih ada yang datang lewat dari itu, bahkan sekitar 15 menit terlambat. Alhasil kami berangkat mendekati jam 8.00. Di perjalanan, yang sudah terlambat itu, masih ada dosen yang minta berhenti di tengah jalan untuk buang air sehingga tambah molor lagi. Memang dari pihak Mandiri tidak ada keluhan kecuali sibuk melaporkan ke kantor pusat bahwa bis akan terlambat.

Apa makna dari catatan ini, kita  seringkali lupa melihat tujuan dari aktivitas kita. Apakah kita ini mau piknik yang tidak ada jadwalnya, atau kita ingin mengikuti acara yang dihadiri oleh orang-orang penting seperti direksi dsb? visi tentang aktivitas ini sering diabaikan, apalagi mungkin ada yang menganggap dirinya adalah orang penting juga yang harus diserve dengan baik. Agak repot memang kalau kejadiannya seperti ini. Mungkin kesalahan juga ada dari pihak mandiri yang tidak tegas menyatakan agenda acara. Tapi saya pikir wajar karena mereka sudah membagikan jadwal dan mereka tahu dosen-dosen adalah orang terpelajar. Jadi malu sama mahasiswa kalau sudah begini…

2. Mendengar penjelasan pihak mandiri saat hadir di EBC (executive b.. center, apa ya lupa), terasa sekali mereka sangat serius membuat strategic plannya. Belum lagi bagaimana cara mereka mengemas itu semua dalam booth-booth yang sangat profesional. Sempat juga kita diajak ber-virtual tour dengan unit lain di gedung yang sama maupun di gedung berbeda. Pokoknya ok punya lah.

sepertinya sbm atau ITB perlu mulai merapikan lagi strategic plannya sehingga terasa benar arahnya buat orang-orang di dalamnya. Bukan bergerak tanpa arah dan strategi yang jelas. 2010 menjadi regional champion buat mandiri seolah menjadi ruh buat bank mandiri. Ruh kita mana???

3. Berkunjung ke museum bank mandiri juga luar biasa. KEsan pertama bank mandiri cukup serius juga mengelola museumnya. Perawatan gedung dan pengelolaan tour juga baik. Ada simulasi kegiatan perbankan tahun 30-an. Yang lebih menyentuh lagi waktu diputarkan film dokumenter batavia tahun 1941. Wah rasanya jakarta 2008 tidak lebih baik atau bahkan lebih buruk dari tahun 1941. Suasana Eropa begitu terasa. maksudnya bukan keeropaannya yang diutamakan, tapi bersihnya, rapinya. Kalau di Eropa sungai-sungai banyak dijadikan sarana wisata, di daerah sunda kelapa kemarin sungai sudah berwarna hitam. Kata guide-nya ada yang dinamakan kali mati. kita bergurau karena kalau minum air dari kali itu pasti orang akan mati.

ok, segitu dulu, asyiklah kalau sbm atau itb bisa seperti bank mandiri dalam mengelola organisasinya. walau itu bukan yang terbaik, jelas sudah lebih baik dari kita sekarang. bukan promosi mandiri lo, saya aja ngga berniat apply kartu kredit seperti yang mereka minta saat pulang …😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: