Pemimpin pemalu (was Gaya tersembunyi)

Ini udah sore banget, tapi saya penasaran kalau ngga nulis uneg-uneg ini. saya cukup terganggu dengan masukan (kritik persisnya) yang disampaikan kepada saya gara-gara saya menyampaikan sebuah persoalan dan mengajukan solusinya di publik. Kelihatannya ada orang yang gaya kepemimpinannya tidak ingin dilihat orang lain. akibatnya isu-isu yang muncul tidak boleh keluar sampai diketahui orang lain. hmmm, ?!@^#*$00

Hal ini bukan pertama kali saya alami. Beberapa kali saat menyampaikan ide terbuka ke publik tidak ditanggapi secara positif. Beberapa orang sering melihatnya sebagai upaya provokasi atau memojokkan. Padahal kadang saya sudah memikirkan kalimatnya setengah mati agar tidak ada yang tersinggung. Dan saya sering cek juga kepada kolega yang lain mengenai ide tersebut. Responnya cukup positif. Hanya beberapa orang saja yang suka kebakaran jenggot.

Pemecahan masalah secara tertutup memiliki banyak kerugian. Yang jelas orang yang memunculkan masalah besar kemungkinan akan menjadi “tersangka” karena mengajukannya. padahal belum tentu hanya ybs saja yang mengalami. Tapi karena tidak diekspos maka kemungkinan menjadi personalized makin besar.

kedua, jika masalah dibahas secara tertutup maka alternatif solusi akan semakin sedikit. Pada akhirnya keputusan pun bisa jadi tidak maksimal. lewat diskusi terbuka, kita akan lebih mudah melihat persoalan secara menyeluruh. banyak sudut pandang yang disampaikan sehingga memutuskan pun bukan semata-mata karena subjektivitas.

ketiga, kalaupun ada solusi maka solusi itu hanya diketahui si pengungkap. JIka persoalan tersebut persoalan publik maka akan terjadi lagi hal yang sama, berulang kembali. Ini jelas inefisiensi.

Pendek kata, gaya kepemimpinan tersembunyi ini kurang pas di mata saya. jaman sudah begitu terbuka. media komunikasi bertebaran di mana-mana. kenapa harus menggunakan jalur khusus yang tertutup? apakah membuka persoalan kepada publik akan menunjukkan kelemahan pengambil keputusan? rasanya tidak. apalagi memang jika persoalan itu tidak berkaitan dengan kinerja pengambil keputusan. toh ybs tetap bisa mengambil keputusan tanpa harus berada di tengah-tengah pro dan kontra bukan? saya yakin orang akan tetap respek dengan apa yang diputuskan. apalagi jika disertai pemahaman mengapa keputusannya demikian setelah melihat diskusii terbuka.

ya tapi itulah… dunia real memang tidak selalu seperti yang kita bayangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: