Mengenang ramadhan di negeri orang

Beberapa hari lagi Ramadhan tiba. Betapa keras hati ini sampai-sampai kehadiran Ramadhan dianggap biasa-biasa saja. Semoga di sisa waktu beberapa hari ini, Allah swt memberikan hidayah agar hati lebih lembut dan rindu dengan kedatangan Ramadhan. Begitulah kalau dunia sudah begitu mendominasi diri. Selalu tidak ada waktu untuk melihat sedikit pun (apalagi banyak) pada ruang di akhirat kelak. Bahagialah orang yang lingkungannya begitu kondusif untuk selalu menghadirkan ruh akhirat di kehidupan dunianya. Walau tak sepenuhnya, saya pernah merasakan sedikit kebahagiaan seperti itu di Jepang dulu…

Tujuh tahun lalu ketika pertama kali menghadapi Ramadhan di Saijo, kampung di higashi hiroshima, yang pertama terasa tentu sedih. Sedih karena pertama kali berpisah dengan istri dalam waktu yang cukup lama. sedih berada jauh dari keluarga yang biasa meramaikan saat buka dan sahur. sedih karena tidak terdengar suara azan mengumandang, alunan bacaan quran, atau tidak terlihat suasana Ramadhan yang biasa dialami.

Beruntung saat itu saya berada di tengah-tengah keluarga Indonesia yang senasib dan penuh ghirah untuk menghidupkan suasana Ramadhan. Walau masing-masing sibuk dengan kuliah, jiken, tugas dari sensei, mahasiswa di sana masih sempat mengadakan buka bersama bareng, bahkan melibatkan sahabat-sahabat dari mesir, malaysia, sudan, bangladesh dan dari negara lain. Jelas momen seperti itu benar-benar terasa berarti. Persaudaraan dalam Islam benar-benar terasa.  Saat berbuka bersama, masing-masing keluarga membawa makanan yang bisa mereka bawa. Semua dihidangkan bersama untuk saling dicicipi. Bahkan kue-kue jajanan pasar pun bisa terhidang di sana berkat upaya istri yang ikut menemani suaminya.

Saya ingat, kalau tidak sempat ketemu dengan teman lain karena kesibukan di lab, saat pulang ke kamar 904 di intl house, kadang tertegun sambil meneguk teh atau jus yang dibeli di hypermart. Saat-saat sepi itu ada keluarga pak Ariyanto dari bengkulu yang sering mengetuk pintu membawakan tajil dan mengajak tarawih bersama di rumahnya yang bersebelahan. Waktu itu ada pak novi dari BI, pak dwi dari pajak yang sama-sama baru datang. kami sering akhirnya tarawih berjamaah di tempat pak ariyanto. setelahnya dihidangkan makanan buatan bu ariyanto yang semua rasanya begitu spesial. Oh ya selain di tempat pak ariyanto, kami juga sering berjamaah di tempat pak Suminto dari pajak (di mana ya beliau). kalau yang agak jauh, ada keluarga pak kahar, daisempai di hiroshima. kami sampai dijemput untuk berbuka dan tarawih berjamaah di tumahnya. Sungguh, semua itu benar-benar menghadirkan suasana ramadhan yang tidak saya dapatkan di Indonesia.

Sore hari kerja sering juga Pak gusnur dari BPPT tunggang langgang mengambil tajil dan makanan buka ke rumahnya dengan mobil mininya untuk dihidangkan di depan IDEC. waktu itu ramadhan di bulan november kalau tidak salah sehingga sudah masuk musim dingin. teman-teman yang bujangan beneran atau bujangan lokal sangat menantikan masakan  bu gusnur yang terkenal lezat. Pendek kata rasanya waktu itu air mata mengalir begitu mudah.

Tahun-tahun berikutnya ketika saya tinggal dekat islamic center saijo,  tarawih berjamaah  dengan brother-brother dari mesir, bangladesh juga terasa berkesan. barangkali harus menjadi minoritas dulu ya baru kita merasa ikatan keimanan. Kapan ya bisa merasakan kembali momen-momen seperti itu lagi? semoga Allah memberkahi teman-teman waktu itu, di manapun mereka berada saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: