Allah pemaaf, tapi prodi tidak

Kemarin saya terpaksa mendengar isak tangis seorang mahasiswa ketika mendengar bahwa dia tidak akan mendapat predikat cumlaude. Sudah menjadi code of conduct di sini bahwa setiap pelanggaran akademik, baik kecil apalagi besar akan berakibat mahasiswa tidak mendapat penghargaan semisal predikat cumlaude. Walau IP lebih dari 3,5 catatan pelanggaran tidak akan dapat dihapus oleh apapun. Ini cara yang ditempuh agar mahasiswa tidak main-main dengan integritas. Kejujuran adalah di atas segalanya.

Yang bersangkutan tahu aturan itu sehingga tidak ada protes yang bisa dia sampaikan. Menangis adalah wujud penyesalan. “bukankah saya hanya melakukannya sekali itu saja, selebihnya tidak pernah”, begitu dalihnya untuk mencari maaf. “Kenapa besok-besoknya tidak ada lagi pengecekan?”, upayanya terus kepada staf di prodi walau tahu itu hanya usaha yang sia-sia. Memang begitulah, yang namanya kepergok tidak pernah diatur. kalau polisi beritahu kapan ada razia, kita tidak pernah mana orang yang berkendara tidak pake SIM bukan?

Allah saja pemaaf, masa prodi tidak bisa memaafkan kesalahan kecil? Barangkali ada yang berdalih seperti itu. Saya akan mudah menjawabnya. Justru karena kita bukan Allah maka kita tidak bisa memaafkan. Itu alasan subjektif. Yang objektifnya begini, konsep Allah dalam memaafkan orang yang main-main dengan perbuatannya dengan resiko yang sangat besar. Jika ada orang yang berhaji berkali-kali untuk menghapus dosa yang dibuatnya berulang-ulang, dia tidak pernah tahu jika saat jiwanya dipanggil Allah apakah dia sedang tobat atau maksiat. silakan orang mau bertobat sambal tapi hati-hati jika matinya tidak dalam keadaan tobat. Sedangkan sekolah waktunya jelas kapan berakhirnya sehingga tidak bisa disamakan dengan maafnya Allah atas kesalahan yang pernah kita lakukan.

Satu hal lagi, prodi sudah memberi tahu sejak awal tentang hal ini. Kita harus menjunjung tinggi kejujuran lebih dari IP, absen, atau atribut keduniawian lainnya. Sekali kita berbuat curang, kemudian tidak ditindak, itu akan memupuk rasa tidak takut untuk berbuat curang. bukan tidak mungkin maraknya wakil rakyat yang berbuat sangat tidak etis karena sejak lama sudah dipupuk untuk berbuat curang. Akankah kita memaklumi yang semacam itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: