Masihkah ada waktu?

Menjelang idul fitri tahun ini, seperti juga halnya tahun-tahun sebelumnya, saya sudah mulai menerima ucapan selamat idul fitri, mohon maaf lahir batin, dsb lewat untaian puisi yang indah. tidak ada yang aneh dengan itu semua karena sudah seperti rutinitas menjelang idul fitri. Tapi…

Sejak kepergian Bu Nur, juga beberapa orang yang saya ketahui paling tidak kembali ke Sang Pencipta kemarin-kemarin ini saya merasa waktu menjadi begitu kritis.  Seolah setiap detik, menit, jam begitu berarti dikaitkan dengan kematian. Orang yang tadinya sehat, begitu mudah dibuat oleh Allah untuk sakit dan kemudian meninggal. Bahkan yang sedang sehat-sehatnya pun bisa mendadak meninggal. Begitulah jika Allah sudah berkehendak.

Pada salah satu sinetron yang saya lihat di bulan suci ini digambarkan ada dua bersaudara yang saling bertolak belakang akhlaknya. Sang kakak begitu dekat dengan Allah swt, sementara sang adik lebih suka tinggal di tempat maksiat. Tapi satu ketika sang adik merasa begitu ngeri melihat temannya yang meninggal tersengat listrik sesaat setelah mengatakan “kita masih muda, hidup masih lama” (persisnya saya lupa, tapi intinya seperti itu).  saat itulah sang adik ingin bertobat dan segera ke masjid. Di malam yang sama, sang kakak merasa ingin mengajak sang adik untuk bertobat sehingga dia menyegajakan diri datang ke klub malam tempat sang adik biasa mangkal. Mereka berselisih jalan.

sesampainya di klub, adiknya tidak ada lagi. yang ada hanya wanita penggoda yang mencoba menggodanya. awalnya sang kakak tidak bergeming. tapi syetan tidak pernah kenal kata menyerah. Lama-lama sang kakak terbujuk sehingga yang ada di benaknya “nggak apa-apalah sekali ini, nanti setelah itu saya akan bertobat”. Begitulah, akhirnya sang kakak berzina. Sementara sang adik bertobat di masjid. Malam itu terjadi gempa yang memporak-porandakan seluruh kota. setelah selesai saat orang mencari korban, ibu dan orang-orang yang mencari mendapati kedua kakak beradik itu sudah meninggal. Yang berbeda adalah sang adik meninggal di masjid tertimpa reruntuhan masjid lengkap dengan baju takwa, sementara sang kakak tertimpa reruntuhan klub malam tak jauh dari teman zinanya. Na’udzubillahi min dzalika

walau cuma sinetron, pesan yang disampaikannya sungguh sejalan dengan apa yang terjadi belakangan ini. Semua adalah kehendak Allah swt. tidak ada satu pun makhluk yang bisa mengatakan saya akan melakukan ini besok, lusa, bulan depan, tahun depan kecuali dengan izinnya. Oleh karena itu saya teringat hal ini ketika membaca sms teman yang mengatakan selamat idul fitri. akankah kita punya kesempatan untuk mendapatkan kemenangan walau tinggal beberapa hari lagi? 

Saya jadi tersenyum kecut ketika beberapa mahasiswa mengatakan pembelaan ketika tertangkap tangan melakukan pelanggaran akademik,”saya hanya sekali ini, teman yang lain yang sering melakukan tapi tidak tertangkap, tidak adil dong”. Mereka iri melihat rizki orang lain, padahal sesungguhnya yang perlu kita lihat adalah berapa banyak kebaikan dan keburukan yang kita buat. biarlah ada yang berbuat buruk, baik tertangkap atau tidak, karena itu akan menjadi tanggung jawabnya. kita bertanggung jawab atas diri kita saja. kematian datang kapan saja, masih kan kita berani berbuat curang? walau orang lain masih berbuat???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: