Ukuran sajadah: sains dalam pelaksanaan ibadah

Untuk ke-sekian kalinya saya dan kita semua menjalankan shalat ied yang baru beberapa hari berlalu. Begitu juga shalat-shalat jamaah lainnya, apakah shalat jumat atau shalat fardhu. Entah berapa ratus kali dalam setahun kita melaksanakan shalat jamaah. Satu hal yang sering tampak tapi tidak begitu penting kelihatannya bagi banyak orang adalah kerapatan shaf. Kalau shalat jumat masih mendingan karena biasanya imam sering mengingatkan, walau kadang tidak direspon dengan benar oleh makmum. Tapi untuk shalat ied, rasanya jarak antar makmum sudah terasa mengkhawatirkan.

Memang kita tidak bisa mengukur diterima atau tidaknya shalat seseorang dari tampilan fisik. Tetapi rapatnya shaf sudah diketahui sebagai keutamaan dalam shalat berjamaah. Dari sekian banyak penyebab tidak rapatnya shaf adalah penggunaan sajadah. Orang sering menjadikan sajadah sebagai batas area shalat bagi dirinya. Padahal kita tahu bahwa ukuran sajadah yang banyak beredar sangat lebar. Boleh jadi ini adalah ukuran orang Arab yang memang besar-besar atau karena hal yang lain. Dengan demikian banyak ruang kosong antara satu makmum dan makmum lainnya.

Masjid juga sering melakukan kesalah-kaprahan ini. Masjid sering menyediakan karpet yang berbentuk sajadah sehingga perlakuan jamaah terhadap jarak shaf seperti halnya mereka menggunakan sajadah sendiri. Dalam kondisi seperti ini imam tidak lagi cukup menyampaikan bahwa rapatnya shaf adalah keutamaan shalat berjamaah tetapi harus menyampaikan bagaimana merapatkan shaf itu. Jadi tidak hanya apa yang penting, tapi bagaimana melakukannya. Ini adalah aplikasi manajemen dalam ibadah. Saya salut dengan imam-imam di masjid Salman yang cukup banyak menghabiskan waktu untuk membetulkan shaf. barangkali coaching istilah tepatnya.

Waktu belanja sebelum lebaran kemarin, Aan minta dibelikan sajadah untuk di rumah karena sajadah kecilnya ditinggal di sekolah. Kami akhirnya mendapatkan sajadah yang cukup baik rasanya. ukurannya kurang lebih selebar bahu orang dewasa. Dibandingkan dengan ukuran sajadah yang lebar-lebar, sajadah ini mungkin separuhnya. oleh karena itu sajadah ini kelihatan kecil. Tapi sesungguhnya ketika saya gunakan untuk shalat, sajadah ini cukup buat badan saya. Ini yang saya anggap sebuah kemajuan. Memang seharusnya ukuran sajadah di Indonesia dibuat berdasarkan data antropometri orang-orang Indonesia. Mudah-mudahan sajadah itu memang merupakan hasil riset, bukan sekedar mengurangi biaya bahan. Mudah-mudahan ini pertanda bahwa dalam melaksanakan ibadah pun, kita perlu mengkajinya secara ilmiah. 

Sebagai catatan juga, di beberapa tempat kran air sudah diset sedemikian rupa sehingga air wudhu yang keluar tidak boros.

2 Responses to Ukuran sajadah: sains dalam pelaksanaan ibadah

  1. ira says:

    jadi inget Bapak saya. katanya kalo mesjidnya memang lapang, kenapa harus dempet-dempetan? hehehe…..

  2. Mursyid Hasanbasri says:

    ha ha, bisa aja ira.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: