Kembali kepada apa yang kita miliki

Sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) selama ramadhan memang sangat berbeda. Isinya sarat dengan sindiran-sindiran dan pengetahuan yang selama ini seolah terlupakan. walau ada yang mengkritik sana sini, tetap saja PPT ini menghadirkan sesuatu yang bernilai. Di salah satu episodenya, dialog antara bang asrul dan istrinya sampai kepada kesimpulan bahwa hendaknya kita berbicara dengan apa yang kita miliki. Dalam kisah itu bang asrul digambarkan sangat miskin sehingga tidak memiliki apapun. Sang istri yang sabar pun tidak ingin membicarakan soal uang karena mereka memang tidak memiliki uang. Jadilah mereka hanya membicarakan apa yang mereka miliki yaitu Allah swt. Luar biasa!!!

Secara langsung dialog ini menyindir saya dan mungkin anda juga. Kita seringkali berbicara tentang apa yang tidak kita miliki. Kita bicara rumah mewah orang lain, uang milyaran entah punya siapa, mobil bagus tetangga, dan segala asesoris dunia yang tidak kita miliki. Seolah apa yang kita miliki menjadi tidak berarti karena yang kita bicarakan itu memang pasti berada di atas yang kita miliki.  

Memang sudah sering kita dengar jangan suka melihat ke atas, tapi lihatlah ke bawah. masih banyak orang yang lebih susah daripada kita. isi dialog bang asrul ini senada dengan topik ini, tapi rasanya jauh lebih menghujam dari nasihat untuk melihat ke bawah tersebut. Bahkan kita tidak perlu melihat ke mana-mana untuk menjalani hidup. Cukuplah lihat apa yang kita miliki. Dan satu yang pasti kita miliki adalah Allah swt. 

Tunggu dulu, mungkin orang akan protes, “lho itu namanya pasrah”. Saya katakan tidak harus pasrah walau kita membicarakan Allah swt. Dengan begitu Allah akan menjadi referensi kita setiap saat. Saya sering membayangkan punya rumah yang lebih baik daripada yang saya miliki sekarang. Tanpa referensi Allah maka bayangan itu akan meninabobokkan saya sehingga menjadi pengkhayal sejati. Tapi kalau kita ingat bahwa boleh jadi rumah mewah itu akan membuat kita sombong dan lupa ibadah, bayangan rumah mewah tak lagi hinggap kepala. Yang ada hanya rasa syukur dan syukur. 

barangkali dalam konteks organisasi kita bisa mengatakan visioner boleh, tapi dialog bang asrul ini seolah mengingatkan kita bahwa cita-cita saja tidak cukup. Ingatlah bahwa apa yang apapun capaian kita nanti, kita sudah memiliki lebih dari yang kita bayangkan… subhaanallahu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: