Mati: (siapa takut???)

Pulang lembur tadi malam sekitar jam 10.30, aan dan ibunya ternyata belum tidur. Aina sudah nyenyak bobok. Aan senang melihat saya bawa bekal dari kampus. Seperti biasa semuanya langsung dilahap, bedanya kali ini ayahnya ikut juga serta😉. Sambil ngobrol menghilangkan kepenatan, di celestial movie ada film jepang. saya ngga tahu judulnya apa, tapi setiap film jepang selalu menarik buat saya, jadilah film itu fokus kita bertiga malam itu.

Film yang sudah berjalan entah berapa lama itu menceritakan seorang ayah yang mengurung diri di kamar, menyendiri dari anak dan istrinya. bahkan kamarnya pun sering ditutup tirainya. Kelihatannya sang ayah begitu panik dan takut pada sesuatu. sampai satu saat istrinya menerima telpon dan menyampaikan isi telpon itu kepada sang suami. “Natsuki, todo san sudah meninggal. dia tidak meninggalkan apa-apa kecuali wasiat untukmu”, begitu kata istrinya (hiroko) kepada sang suami di balik selimutnya seolah tidak peduli dengan apapun.

Wasiat itu rupanya menyindir natsuki yang “pengecut”. Entah apa maksudnya, tapi sejak itu Natsuki berani keluar dari kesendirian. Istri Todo san mengatakan kepadanya ketika Natsuki melayat ke makam, todo san menantinya di “sana”. Kemudian sang istri mengajaknya melihat anak sulungnya belajar berselancar. Natsuki sedih karena tidak bisa mengajari anak kesayangannya, dia menangis. Sang anak berkata, “jangan meninggal ayah”. 

Dari situ kami tahu bahwa natsuki ternyata mengidap penyakit yang parah. Vonis dokter dia tidak akan melebihi musim semi (kalo tidak salah) mendatang. sempat bergurau, natsuki mengajak istrinya ke daerah yang tidak ada musim itu. sungguh gurauan yang pahit. tapi ternyata natsuki sudah siap. hari demi hari pun natsuki menghabiskan waktunya dengan riang bersama keluarga di Hawaii. dia, istrinya hiroko dan keempat anaknya menjadi begitu siap menghadapi kematian. Sampai hari pemakamannya, istri dan anak-anaknya justru tersenyum bahagia. “ja ne papa”, kata anak-anaknya. tidak ada tangisan. 

Sungguh film ini membuat saya kecut. apakah saya bisa sesiap dan sebahagia natsuki ketika menghadapi maut? apakah istri dan anak bisa seikhlas itu menerima kepergian suami dan ayah yang dicintainya? Natsuki bahagia karena akan pergi ke “surga”. seolah “surga” itu tempat lain di bumi, hanya duluan saja dari keluarganya. Ya Allah, rindukan kami pada kematian, ikhlaskan kami pada panggilan-Mu, kuatkan kami agar dapat menyiapkan bekal untuk menghadapi-Mu nanti. Amin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: