Bekerja dan/atau berpikir?

Entah karena memang banyak pekerjaan yang tetap terbawa ke rumah sewaktu libur atau karena bawaan muka yang sudah begini, seorang sejawat bertanya,” kok kusut amat. Ceria dikit lah”. Kira-kira begitulah sarannya saat ketemu di rapat. Waduh, susah juga mengubah setting wajah yang secara alamiahnya memang sedang menanggung pekerjaan rumah. Spontan saya jawab,”abis memang banyak yang dipikir”. “Pak, jangan banyak mikir, tapi banyak kerja,” saran sejawat itu.

Kontan saja dalam hati ini menggerutu. Memangnya saya ini berpikir melulu tanpa disertai pekerjaan. Tapi karena semangat tahun baru, ya sudahlah, diambil saja positifnya. Tapi dari sini saya punya catatan tersendiri jadinya.

1. setelah saya ingat-ingat, ternyata 1 tahun saya di prodi barangkali bisa dihitung dengan jari saya rapat dengan staf. Ini sebenarnya yang membuat saya agak tersinggung tadi. saya beranggapan rapat cenderung lebih banyak bicara daripada berbuat. karenanya kalau ada rapat pun, isinya kalo bisa mengerjakan sesuatu bukan membicarakan sesuatu saja. Silakan kita merenung, berapa banyak rapat yang sudah kita hadiri tapi berapa banyak pula yang menghasilkan sesuatu yang kongkrit. Saya berani mengatakan ini adalah gejala umum, barangkali tipikal orang indonesia. jadi untuk hal ini saya pikir akan saya pertahankan.

2. Soal jangan banyak berpikir, tapi banyaklah bekerja. Saya coba renungkan, apakah berpikir itu salah, apalagi memang berpikir itu sedang mencari bagaimana cara terbaik untuk mengerjakan sesuatu. Saya jadi malah balik bertanya dalam hati, apakah ada orang yang bekerja tanpa berpikir??? wah gawat juga dong ya. Atau inilah sebabnya mengapa banyak hal dikerjakan orang tapi sedikit kemajuan atau perbaikan yang terjadi. Mengapa? karena pekerjaannya asal selesai, tidak menghunjam pada akar persoalan yang sebenarnya.

3. Pastilah bahwa yang di tengah yang terbaik. barangkali maksud sejawat tadi ya berpikir juga tapi bekerja juga. he he. saya mencoba berpikir positif aja. ini kok intinya.

Jadi semoga saja siapapun yang menyarankan sesuatu, sesuatu itu telah dilakukannya dengan baik. kalau tidak, itu yang dalam agama disebut munafik, dalam istilah kerennya tidak “walk the talk”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: