Kendaraan atau Tujuan

Banyak orang mengatakan uang bukanlah tujuan, tapi sebagai alat atau kendaraan saja menuju tujuan sebenarnya. Tapi seringkali pula kita mendapati orang sering lupa ketika memegang uang sehingga tujuan kadang menjadi kabur, disamarkan oleh kipasan uang yang ada di depan mata. Kalau memang tidak hati-hati, mudah sekali pemahaman kita bergeser menganggap kendaraan adalah tujuan kita.

Baru-baru ini saya mengalami hal serupa. Rasanya orang akan sepakat bahwa akreditasi sebuah perguruan tinggi merupakan kendaraan menuju perguruan tinggi yang betul-betul berkualitas. Tapi sebagaimana fenomena di atas, tidak jarang akreditasi itu menjadi demikian penting sehingga apa pun dilakukan agar akreditasi itu bisa diraih. Bukankah ini merupakan contoh bagaimana kendaraan telah berubah menjadi tujuan? Jika memang akreditasi menjadi kendaraan, mestinya diperoleh atau tidak, akreditasi tidak perlu dipersoalkan karena dalam proses akreditasi tersebut sebuah perguruan tinggi sudah mencoba memperbaiki sistem sehingga memenuhi standar akreditasi.

Bukan rahasia lagi kalau ada sekolah yang terakreditasi baik tapi sebenarnya belum layak mendapatkannya karena fasilitas yang belum memadai, jumlah dosen yang terbatas, dsb dsb. Saya dulu pernah melihat nama saya ada di salah satu universitas swasta di bandung padahal tidak pernah secara resmi dikontak. Barangkali itu upaya menaikkan gengsi atau mencukupkan jumlah dosennya (padahal apalah posisi saya waktu itu).

Mudah bagi setan untuk menggoda keikhlasan ber-tujuan (memiliki tujuan dalam segala hal) ini.  Jebakan yang umum adalah bahwa akreditasi ini dituntut segera, sehingga kalau tidak dapat maka status jurusan/sekolah/perguruan tinggi akan terancam berubah menjadi jelek. Saat itulah tujuan akhir mendadak hilang ditutupi tujuan jangka pendek, tujuan sesaat yang sebenarnya lebih didominasi nafsu untuk memenuhi kepentingan pribadi atau sekelompok orang. Kualitas proses yang akan dilakukan biasanya drop drastis jika kondisinya sudah seperti itu.

Jadi jika saya, anda, kita belum terjebak pada fenomena, mari sama-sama mengingatkan bahwa kendaraan tetaplah kendaraan, tujuan tetaplah tujuan. jangan pernah mengaburkannya satu sama lain karena kualitas diri kita tidak ditentukan oleh prestasi sesaat, tapi prestasi jangka panjang. itu yang kita kenal dengan track record…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: