3 kesalahan umum menggunakan fishbone diagram

Berkali-kali saya menemukan mahasiswa yang kurang tepat ketika menggunakan fishbone diagram (diagram tulang ikan). Umumnya diagram ini digunakan untuk mencari akar masalah (masalah) dari sebuah masalah (fenomena) yang tampak di permukaan. Tetapi seringkali analisisnya tidak membawanya ke solusi yang tepat. Kenapa? Ada beberapa kesalahan umum dalam menggunakannya. berikut catatan saya soal ini.

1. Kesalahan pertama, fishbone diagram dibuat untuk masalah/fenomena yang masih sangat umum. akibatnya faktor-faktor yang berkontribusi pada masalah di kepala ikan masih sangat banyak dan umum juga kategorisasinya. Jika demikian halnya, besar kemungkinan satu faktor dapat dipengaruhi oleh faktor yang lain. contoh yang paling mudah adalah kita tahu rule of thumbs bahwa 80% masalah adalah masalah manajemen. artinya besar kemungkinan kalau Man atau Material atau Mesin (biasanya orang pake faktor berinisial m semua) yang bermasalah, maka manajemen lah yang menyebabkannya. bisa dibayangkan kita mengganti mesin sebagai solusi padahal akar masalahnya terjadi di tulang yang lain. belum lagi kalau keumuman masalah berakibat banyaknya tulang-tulang kecil penyebabnya, keterkaitan antar faktor akan semakin kompleks.

Aturan umum 1: gunakan fishbone untuk masalah-masalah yang cukup spesifik. Semakin teknis semakin baik analisisnya. alternatifnya gunakan CRT (current reality tree)

2. Kesalahan kedua, analisis terhadap faktor penyebab masalah tidak disertai data pendukung. akibatnya orang suka-suka saja mengatakan: apa menyebabkan apa  tanpa tahu statistiknya, dan kemudian menyimpulkan bahwa faktor x lah yang menjadi akar masalah. Mengapa faktor x? barangkali yang dikuasainya hanya faktor x, bukan tuntutan dari akar masalah yang sebenarnya.

Aturan umum 2: justifikasi setiap tulang dengan data pendukung berupa tabulasi atau statistik kejadian faktor penyebab.

3. Kesalahan ketiga, perlakuan terhadap akar masalah tidak jelas atau tidak semua akar dilihat secara komprehensif. Andaikan ada 10 tulang kecil sebagai akar masalah. perlakuan terhadap kesepuluh tulang itu tidak jelas. apakah semua di-attack? apakah sebagian dibiarkan saja? atau bagaimana. pengalaman mengatakan bahwa ada faktor eksternal, ada yang internal; ada yang cukup dibuat SOP-nya, ada yang harus dicari pemecahannya secara teknis; ada yang controllable ada yang tidak (pengaruh lingkungan misalnya).

Aturan umum 3: klasifikasikan setiap tulang dengan C (constan), N (noise), dan X (variabel yang dikendalikan).  Usahakan upaya perbaikan mengubah X menjadi C, syukur-syukur N juga bisa diubah menjadi C.

Kalau ketiga aturan ini diterapkan, penggunaan fishbone baru berdampak pada solusi yang ditunggu-tunggu.

6 Responses to 3 kesalahan umum menggunakan fishbone diagram

  1. 1ngo says:

    Thanks for the post🙂. See you on April, Pak. Hope to finish all the chapters that time.

  2. gemblong says:

    makaciiii bgt
    walau cuma sedikit tapi sangat membantu….

  3. gemblong says:

    ada artikel lain tentang CRT??
    untuk perbandingan
    or send me via email
    tengkiuu……

  4. Mursyid Hasanbasri says:

    saya coba pak. tq

  5. mas untuk penggabungan antara ansos swoot dan fishbone gimana ya? adakah artikelnya. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: