Safety Stock

Sebelumnya saya sudah menyinggung safety stock yang disediakan untuk mengantisipasi ketidakpastian dalam permintaan. Jadi sama sekali bukan karena sesuatu yang dapat diprediksi sedemikian rupa sehingga kita hanya menambahkan misalnya 10% dari permintaan bulan lalu atau rata-rata bulan sebelumnya. Ada 3 komponen yang menjadi pertimbangan dalam menentukan safety stock.

1. Variasi permintaan. Sangat jarang sekali kita menemukan kasus dimana permintaan itu stabil apalagi sama tiap bulannya. selalu ada variasi permintaan. Logikanya semakin tinggi variasi permintaan dari waktu ke waktu, pasti peluang untuk terjadi stock out (kekurangan persediaan saat ada permintaan) akan semakin besar. Oleh karena itu, faktor variasi permintaan ini pun harus berbanding lurus dengan safety stock yang harus kita siapkan.

2. Lead time. Ada berbagai macam lead time mulai dari lead time produksi, leadtime transportasi, leadtime inspeksi, dan atau leadtime yang lain bergantung terminologi tiap-tiap perusahaan. Yang jelas sejak suatu produk dipesan hingga dideliver kepada yang memesan, waktu yang dibutuhkannya juga bervariasi. Kadang kala seminggu selesai. Di lain waktu bisa sampai 2 minggu atau lebih. Seperti halnya variasi permintaan, maka semakin besar leadtime-nya maka harus semakin besar pula safety stock yang kita butuhkan.

3. Service level. Setiap perusahaan perlu menetapkan berapa service level yang diberikan kepada pelanggannya. Secara sederhana, kalau ada 100 permintaan, berapa banyak yang dapat kita tolerir untuk tidak terpenuhi? jika hanya 5, maka service level kita adalah 95%. idealnya memang 100%, tetapi itu berarti kita harus menyediakan safety stock yang sangat besar. Karena safety stock adalah inventory, maka uang yang tertanam di situ harus diperhatikan.

Jika variasi permintaan diwakilkan oleh sigma, leadtime dilambangkan dengan L, serta service level kita kaitkan dengan z (biasanya diasumsikan mengikuti distribusi normal), maka safety stock dapat dihitung sebagai

SS= sigma x z x sqrt(L)

catatan: z dapat dicari dengan fungsi excel NORMSINV(tingkat service level yang diinginkan)

35 Responses to Safety Stock

  1. Rachmat Wijaya says:

    Assalamualaikum wr.wb.

    salam semangat,

    Pak Mursyid Hasanbasri, artikel tentang safety stock-nya sangat bermanfaat. Kebetulan sekali saya sedang menelaah tentang “korelasi antara forecast error dengan safety stock”. Bagaimana menurut Pak Mursyid tentang tema ini?

    Wassalamualaikum wr.wb.

  2. Mursyid Hasanbasri says:

    Wa’alaikumsalam wr wb
    terima kasih atas komentar dan infonya. saya pikir menarik juga kalau dilihat lebih jauh hubungan antara forecast error dengan safety stock. kalau boleh tahu apa alasan khusus yang mendasari telaahan bapak? untuk mengembangkan model atau ada kasus khusus yang tidak cukup dipecahkan menggunakan model umum?
    Senang sekali kalau pak Rachmat bisa berbagi hasil penelitiannya nanti.

    salam

  3. okawida says:

    selamat siang pak mursyid,
    saya ifan, kebetulan saya membaca artikel bapak..
    yang saya mau tanyakan apakah dalam menetukan safety stock harus selalu berdasarkan service level?
    trimaksih pak

  4. Mursyid Hasanbasri says:

    Pada prinsipnya safety stock disediakan untuk mengantisipasi uncertainty. Variasi demand dan leadtime saja sudah lumayan merepotkan. Andaikan kita dapat meredam keduanya, tidak ada jaminan bahwa safety stock dapat dihilangkan. Nah faktor terakhir inilai yang diantisipasi oleh service level.

  5. nanda says:

    assmlkm..
    maaf sebelumnya mengganggu bapak..
    saya membaca artikel bapak dan kebetulan saya sedang mempelajari mengenai safety stock..
    saya mau bertanya pak..
    untuk menentukan jumlah safety stock, apakah terdapat metode2 tertentu??

    terima kasih sebelumnya..

    • Mursyid Hasanbasri says:

      Wa’alaikumsalam wr wb
      prinsipnya cara perhitungannya seperti yang ada dalam artikel ini. paling ada perbedaan kalau sistem yang digunakan adalah metoda P (periodic review), karena yang saya tulis di atas hanya untuk metoda Q (continuous review). Jadi isunya bukan metoda lagi, tapi tinggal cara menghitungnya.

      cheers,

  6. bram wiratma says:

    maaf ni pak sebelumnya,,,
    saya dalam pengerjaan tugas akhir,
    jika dalam menghitung safety stock,,
    lebih bagus menggunakan metode yang mana?
    reliability atau forecasting,,,,,?
    mohon bantuannya pak,
    trima kasih sebelumnya

    • Mursyid Hasanbasri says:

      Mas Bram, sebenarnya saya kurang paham yang dimaksud dengan metoda reliability atau forecasting dalam manajemen persediaan khususnya menghitung safety stock. Tapi kalau boleh saya tebak arahnya, dalam menganalisis kebijakan persediaan yang kita anut sebaiknaya menggunakan data masa lalu (historical data) dan dibandingkan dengan aktual nilai persediaan. jika model kebijakannya sudah dianggap tepat (at least terbaik sampai saat ini) maka silakan untuk menerapkan kebijakan yang sama di masa mendatang berdasarkan forecast demand yang sudah dilakukan.

  7. bram wiratma says:

    mas gimana sih nyari nilai Z nya untuk safety stock,,,
    tapi saya tidak memakai ROP dan EOQ mas?
    mohon bantuannya,,,

    • Mursyid Hasanbasri says:

      Nilai z merepresentasikan service level. Kalau kita hanya ingin 5 dari 100 order saja yang boleh tidak terpenuhi, maka service levelnya 95%. Cara menentukan nilainya menggunakan tabel distribusi normal atau menggunakan fungsi di excel NORMSINV(service level), ex. NORMSINV(0.95) akan menghasilkan 1,64

  8. bram wiratma says:

    terimakasih mas,,,

    • bram wiratma says:

      mas saya mendapat rumus untuk mencari safety stock dengan persamaan :

      Z = x-miu(u) per tho = stock pengaman per tho (6.4)
      Atau ; Stok pengaman = x – miu(u)

      Maka :
      Stok pengaman = Z di kali dengan tho

      Keterangan :
      Z = Jumlah standar deviasi normal
      X = Nilai variabel yang ingin kita hitung
      miu = Rata-rata distribusi
      tho = Deviasi standar dari distribusi
      mohon bantuannya mas,,,
      apakah benar ini rumus trus persamaan ini dari mana mas?

      • Mursyid Hasanbasri says:

        Begini, nilai z adalah nilai untuk distribusi normal standar. Nilainya berasal dari nilai x yang ingin kita ketahui probabilitasnya, dan tentu saja 2 parameter distribusi normal yaitu rata-rata (miu) dan standard deviasi (sigma bukan tho). rumusnya dapat dilihat pada gambar di link ini.
        Jadi z itu bukan safety stock (ss). rumus ss adalah seperti yang saya tulis sebelumnya atau seperti di link tersebut di atas. dalam kasus inventory, nilai z tidak ditentukan dari nilai x yang ingin dicari, tetapi dari service level yang diinginkan. oleh karena itu saya cantumkan bagaimana nilai z dihitung berdasarkan service level tertentu.
        untuk memudahkan perhitungan, nilai z untuk service level 90% sampai 99% dapat dilihat di sini.

  9. bram wiratma says:

    maaf mas yang di dalam kurung (6.4) itu gak ada mas
    itu maksudnya tadi persamaan(6.4)jadi tidak masuk kedalam rumus

  10. bram wiratma says:

    mas kalo rumus yang saya tanya itu kira2 ada di buku mana ya?
    referensinya gitu,saya minta judul bukunya dong,
    trimakasih sebelumnya,

    • Mursyid Hasanbasri says:

      Operations and Supply Chain Management (OSCM), 13th Ed. (2011) by Jacobs and Chase, McGraw-Hill Global Edition

      Designing and Managing the Supply Chain (DMSC), 2nd Ed (2003) by Simchi-Levi, Kaminsky, and Simchi-Levi, McGraw-Hill International edition (yang ini sudah ada edisi ketiganya)

      salam

  11. bram wiratma says:

    mas kira-kira saya bisa minta buku’a gak dari mas,,,
    atau saya mesti gimana gitu,
    soalnya tadi saya ke perpus nasional gak ketemu bukunya.

  12. bram wiratma says:

    saya bisa nyari bukunya dimanay] ya mas?
    mohon bantuannya

  13. ryosanto says:

    wah artikel yg Bpk Mursyid tulis sangat membantu dalam pengembangan saya ucapkan terimakasih namun ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan :
    1. bagaimana penentuan deviasi yang tepat menurut bapak?
    2. mengenai lead time bagaimana jika lead time ini mencapai bulanan semisal 3 bulan untuk lead time ? jika lead time semakin lama ex 3 bln

    • Mursyid Hasanbasri says:

      Dear pak ryosanto,
      1. Tidak ada standar untuk sigma/standar deviasi yang tepat. Prinsipnya semakin kecil sigma maka situasi yang kita hadapi semakin kecil tingkat ketidakpastiannya sehingga safety stock akan semakin kecil.
      2. Leadtime lama atau tidak, no problem. Yang penting kita punya data historisnya. Angka itu akan “mengatur” besar kecilnya safety stock.

  14. bram wiratma says:

    mas,,,mursyid,
    saya bisa minta jelaskan gak apa yang dimasuk dengan
    1.service level
    2.distribusi normal (z)
    mohon bantuannya

  15. bram wiratma says:

    bagi yang mengerti pertanyaan saya di atas mohon bantuannya untuk menjelaskannya,,
    terimakasih sebelumnya

  16. hatta says:

    Pak Mursyid,
    bagaimana jika nilai standar deviasi tidak diketahui?
    Apakah jika diketahui hanya angka pemakaian per bulan, saldo akhir tahun 2011, dan angka service level, dan lead time, dapat diketahui nilai safety stok?

    Terima kasih Pak, mohon pencerahannya.

    • Mursyid Hasanbasri says:

      Mas Hatta, logikanya jika kita memiliki data pemakaian per bulan, maka kita akan punya data standar deviasi. jadi jika ada data pemakaian per bulan, tinggal gunakan formula average dan stdev di excel.

      salam

  17. Josua says:

    Pak Mursyid,
    saya ada beberapa pertanyaan
    1. Apakah teori safety stock ini berlaku untuk service company, yang menggunakan materialnya di lokasi tertentu dan memiliki demand yang sangat tidak pasti ?
    2. apakah lead time yang digunakan adalah lead time material dari supplier ke warehouse atau dari warehouse ke lokasi?

    • Josua says:

      Terima kasih sebelumnya Pak.

    • Mursyid Hasanbasri says:

      Mas josua,
      1. Sistem manajemen persediaan ini dapat digunakan pada industri apa saja, selama memang yang di-stok adalah barang, mulai dari bahan mentah sampai barang jadi. Soal lokasi ngga ada masalah, yang mungkin agak rumit adalah sistemnya memiliki struktur yang mencakup beberapa stage dan saling berkaitan. Tapi selama setiap titik pelayanan persediaan dianggap mandiri, maka no problem dengan model pesediaan yang sederhana ini. Soal demand yang tidak pasti, justru safety stock digunaksn untuk meredam ketidakpastian. Bukan artinya kita mengurangi demand tapi persediaan sebagai safety stock akan menjadi banyak. Tinggal ke depan apakah mau dipertahankan sejumlah itu atau mau dikurangi.

      2. Leadtime yang dimaksud adalah sejak order disubmit sampai barang diterima.

      Semoga bermanfaat

      • Josua says:

        terima kasih pak atas pencerahannya.
        namun saya memiliki 2 pertanyaan lagi, if i may.
        1. jika sistem inventory yang digunakan adalah just in time, apakah safety stock masih dapat berlaku?
        2. apakah sistem JIT itu memiliki service level 100%?

        terima kasih pak

  18. Mursyid Hasanbasri says:

    Mas Josua,
    sepengetahuan saya, sistem JIT juga menghitung safety stock yang terlihat dari perhitungan jumlah kanban yang dibutuhkan. di situ mereka masih menggunakan rumus safety stock. saya yakin JIT bukan zero inventory, tetapi minimum inventory.
    Kalau service level, saya belum tahu data di lapangan real berapa persentasenya. tetapi logikanya 100% berarti persediaannya harus cukup besar. sulit sekali untuk menjadi perfect.

  19. nahla says:

    Pak Mursyid, mohon di contohkan perhitungan safety stock nya,,, terimakasih

  20. Qoyyim says:

    Assallamualaikum
    pak, saya mau tanya, yang pnya bapak klo servise levenya 95%= 1,64, klo yang pernah saya lihat servise level 95%=1,645, apakah ada perbedaan cara menghitungny atau sama saja hasil 1,64 dengan 1,645?
    mohon bantuannya pak
    terima ksih

  21. Uyo Nessia says:

    Sangat bermanfaat ..terimakasihhhh

  22. kevin says:

    halo kak, numpang bertanya kalau cara menghitung SS jika demand tidak berdistribusi normal bagaimana ya??

  23. kevin says:

    terima kasih sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: