EQ, anak, orang tua dan Charlie

Minggu lalu saya cukup shock mendengar keterangan istri bahwa secara emosional aan berada di bawah rata-rata seumurnya. Dua hasil tes psikologi dari sekolahnya sekarang (TK) dan dari SD yang mau menerimanya mengindikasikan hal yang sama. sebenarnya kami tidak terlalu kaget dengan informasi ini karena sejak kecil aan memang mainnya sama ibu dan ayahnya. makanya dulu sempat, walau di kontrakan, kami mengajak anak-anak tetangga untuk sekolah-sekolahan di rumah. membujuknya untuk ikut PAS (Pendidikan Anak Salman) pun hanya berhasil pada pertemuan pertama, setelah itu dia mogok. Ini jelas tantangan buat kami, orang tuanya.

Memang ada satu hal dari sejak dulu yang saya belum ketemu resepnya. Bagaimana mengatakan “jangan” tanpa berkata “jangan”. Teori sudah banyak dibaca, tapi kadang praktek tetap saja kebobolan. Ketika memberitahu dengan baik-baik sudah dilakukan tapi tetap diabaikan, akhirnya urat leher bersitegang juga nih. Kami tidak sepakat sepenuhnya untuk tidak berkata “jangan” kepada anak. ada saatnya kita harus mengatakan tidak atau jangan pada anak karena kasih sayang orang tua pada anak. Kami tidak percaya bahwa kreativitas itu berarti bebas melakukan segalanya.

Memang batasnya ini yang belum ketemu. Kata psikolog, sekali berkata jangan, maka anak mundur selangkah. apalagi kalau berkali-kali. Tapi saya percaya mengapa anak-anak sekarang (bahkan remaja dan orang tua) bisa berkata kotor dengan mudahnya karena tidak pernah dilarang orang tuanya dulu. Tapi saya cukup tenang karena ada yang memback-up saya. Charlie, anak baik dalam film “charlie and chocolate factory” sudah menguatkan saya bahwa anak pun bisa memahami mengapa orang tua melarang anaknya melakukan sesuatu.

Ketika Willy Wonka mengatakan kesal kepada orang tuanya yang suka melarang ini itu, Charlie menyampaikan bahwa itu semua dilakukan orang tua karena mereka sayang kepada anaknya. nah sepertinya bagaimana membuat anak survive sampai ke kedewasaan yang dimiliki charlie. Tidak mungkin kita tunggu mereka dewasa sendiri. Mesti ada treatment yang membuat mereka berpikir dewasa. tampaknya satu cara, yang dialami oleh charlie, adalah kekurangan sehingga mereka harus berjuang. nah anak jaman sekarang sepertinya agak susah kalo hidup susah dikit.

Oklah, saya terima tantangan ini. kami dan aan pasti bisa melalui ini semua. thanks to charlie…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: