Jakarta oh jakarta

Delapan hari di jakarta membuat saya lebih banyak bersyukur. Dari cara hidup, sistem transportasinya, serta pernak pernik lain yang menyadarkan saya tentang banyak hal. sebetulnya bermula dari tidak adanya fasilitas yang saya terima sebagai anggota tim penulisan buku, apakah itu wisma (apalagi hotel😉 ), kejelasan honor dan sebagainya. Tapi karena saya memang merasa akan banyak mendapat manfaat, saya ikut saja undangan ini.  Tapi oleh karena itu saya menginap di tempat kakak…

Test case hari pertama naik taksi, waktunya 1,5 jam plus ongkosnya yang lumayan mahal Rp 70.000. berikutnya atas saran kakak, saya coba naik ojek. Ternyata lebih “baik” dari sisi biaya dan waktu. walau saya kaget juga ternyata ojek bisa sampe 30.000, tapi itu jauh lebih baik karena per hari jadi 60.000 plus waktunya lebih cepat. awalnya lumayan lama, hampir 1 jam. bayangkan, ojek aja 1 jam, bagaimana kalo pake mobil ya. tapi besok-besoknya mas ojeknya lebih pandai mencari jalur lain sehingga “cuma” 40 menit saja. tapi itu sudah cukup membuat pantat pegel dan panas😉

sepanjang duduk di belakang mas ojek yang sedang bekerja (he he kayak lagu aja), beberapa hal yang menarik. kalau dulu saya sering klakson motor yang seliwar seliwer, sekarang saya yang jadi sasaran klakson mobil-mobil bagus. alhamdulillah, sampai saat ini kaki masih utuh karena sebenarnya resiko kesangkut pembatas jalan, kesenggol bis atau motor lain sangat besar.  itu semua sudah cukup membuat saya merasa nyaman naik mobil di bandung lagi. seolah kemacetan dan keruwetan lalu lintas tidak begitu berarti.

Hal lain, dengan resiko yang begitu tinggi, padahal saya yakin tidak banyak yang bisa mengecap penghasilan yang memadai, atau mungkin karena memang pertimbangan waktu, orang lebih memilih bertaruh (istilah saya) hidup matinya di atas motor. Bukan apa-apa, dengan kondisi seperti di jakarta, kemungkinan kecelakaan begitu besar. kondisi yang tidak segar, lelah membuat orang bisa saja lengah di tengah jalan. ada saja kecelakaan saya jumpai. makanya alhamdulillah kalau di bandung masih belum begitu parah.

Yang lain lagi, kalau tidak naik mobil sendiri, sepertinya keringat itu sudah menjadi sahabat setia. Dia menemani bahkan ketika kita baru berangkat kerja. jadi datang di tempat kerja, hal pertama yang dilakukan adalah menghilangkan keringat dulu (walah walah). bagaimana bisa kerja dengan nyaman ya? kalau soal debu ya sudahlah, sapu tangan penutup hidung dan mulut pun masih terasa kurang untuk menghindar debu dan bau asap kendaraan.

memang benarlah pelajaran dari nasrudin hoja. ketika ditanya bagaimana menyiasati rumah seseorang yang dirasakan sempit, sarannya tambahkan penghuninya (sampai kambing dan hewan ternak lainnya). setelah sampai pada puncaknya, baru kurangi satu-per-satu. ketika sampai pada kondisi semula, maka rumah yang tadinya sempit akan jauh lebih terasa luang. alhamdulillah… terima kasih jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: