Catatan idul adha

Ketika shalat ied jumat lalu, ada beberapa catatan kecil yang mengingatkan saya untuk selalu sadar dan peka dengan situasi di sekitar kita. Kejadian yang biasa di seputar kita, tapi ketika kita berada di “luar” dan mengamati apa yang terjadi, sungguh banyak hal yang telah kita lakukan dengan sia-sia.

Kejadian pertama, saya dan aan datang nggak kepagian, nggak juga kesiangan. kami dapat di bagian tengah, tapi sudah di luar masjid. pada saat akan menggelar sajadah, ada jemaah di sebelah saya yang sudah menggelar tikar lebih dulu.  tapi walau tahu ada kami, ybs santai saja meletakkan sandalnya di sebelah kanannya, di arah kami datang. so, saya berpikir apakah begitu penting sandalnya dibandingkan dengan rapatnya shaf shalat? saya agak kesal juga, tapi sengaja saya pasang sajadah saya di sebelah sandalnya, sambil sikap nyindir. saya contohkan ke aan, biar mepet, sandal kita sebaiknya disimpan di bawah sajadah bagian kepala. Memang ada kesalahan panitia yang membuat ukuran shaf yang terlalu mepet. tapi itu tidak harus mengabaikan kerapatan shaf dalam shalat.

Kejadian kedua, karena shaf di depan kami kosong 1 (jadi saya dan aan tidak di situ), kemudian diisi oleh seorang bapak. ketika selesai menggelar sajadahnya, sandalnya langsung saja disimpan di belakangnya tanpa lihat lagi ada apa di belakangnya. jadinya sandal bapak tersebut di atas sajadah aan. masya Allah, apakah dunia ini memang sudah begini? peduli amat dengan orang lain. malas menegurnya, saya simpan sandal bapak itu di bawah sajadah aan. beruntung aan kalau sujud tidak sampai ke bagian atas.

kejadian ketiga, ketika panitia mengumumkan dana yang terkumpul untuk masjid, panitia salah melafalkan angka-angka jumlah uangnya. spontan 2 orang bapak di depan saya menertawakan panitia. kebetulan salahnya memang banyak, terus saja mereka membahas kesalahan itu. subhanallah, sebenarnya apa manfaat mereka melakukan itu. toh, angka yang disebut sebenarnya kita sudah paham jadi tidak akan menimbulkan salah tafsir. jadi maafkanlah dan teruslah bertakbir, tahlil dan tahmid. itu jauh lebih baik dari sekedar membicarakan hal yang tidak berguna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: