Tahu diri tidak selalu positif ternyata

Untuk ke-sekian kalinya saya mendapat feedback yang sama dari kolega. feedback yang positif buat saya. tapi mungkin nilai yang kita anut berbeda sehingga persepsi seseorang terhadap suatu tindakan sangat berbeda.

Awalnya ketika berperan sebagai pejabat struktural saya merasa ada yang mengganjal hati, biasanya saya langsung mencoba mikir kenapa kok bisa gitu. Jika alasannya masuk akal, ya betapa pun pahit, harus diterima. di situlah kita belajar berlapang dada. dunia ini luas, ada banyak tempat untuk memperbaiki kesalahan bukan? apalagi ampunan Allah swt, bahkan seluas langit dan bumi. Nah masalahnya jika ganjalan tadi berasal dari sesuatu yang tidak jelas alasannya, apalagi sudah menyangkut fitnah, entar dulu…

Ketika semacam itu terjadi, saya melihat 2 alternatif respon: melawan atau “menyerah”. Pilihan pertama biasanya tidak saya ambil karena khawatir bahwa prinsip yang saya pegang belum tentu benar. barangkali itu hanya pikiran saya saja saya di pihak yang benar. alias saya mencoba untuk tahu diri bahwa saya memang tidak sempurna sehingga kesalahan sangat mungkin dilakukan apalagi tanpa sengaja. Jadi kalau ada yang ngotot sana sini, ok deh, silakan ambil tuh posisi. Insya Allah ladang bertanam bekal akhirat jauh lebih luas dari sekedar jabatan yang paling hanya 4 tahun. Apalagi senior yang dihadapi, kasihan umur sudah tua tapi masih berambisi ini itu.

Tapi itu tadi, ketika sayabaru menyinggung bagaimana kalau saya turun saja, beberapa kolega bilang itu tidak baik. kalau mau turun, turun sekalian, tidak usah pakai ba bi bu. kalau tidak mau, jangan bilang mau turun jabatan. logis sekali, tapi ada yang belum pas dengan masukan ini. ada pesan yang ingin saya sampaikan lewat pernyataan mau turun: (1) bahwa jabatan itu bukan segalanya, turun dari jabatan tidak masalah (2) kalau ada yang mau dan lebih baik, silakan pegang amanah itu. tapi kalau tidak mau juga, artinya orang yang ribut sana sini cumanya bisa bicara, persis seperti komentator atau demonstran yang dibayar. so akhirnya kita tahu mana yang “benar” (3) turun betulan secara ekstrim belum tentu menyelesaikan masalah.

so, I did it my way…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: