Integritas (2)

Nilai (value) yang kedua dari integritas adalah adil (fairness). Pengertian umum adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain yang sudah menjadi haknya adalah wujud tindakan yang adil. Tetapi jika sesuatu itu bukan haknya, maka seseorang yang tidak mendapatkan sesuatu itu, tidak dikatakan sedang diperlakukan tidak adil. Pengertian yang lain adalah adil berarti bebas dari pengaruh kepentingan. ketika seseorang diperlakukan tidak sebagaimana mestinya karena pengaruh suatu kepentingan, kita bisa katakan orang ini sedang diperlakukan tidak adil.

Dengan demikian pada dasarnya tidak sulit untuk memahami konsep fairness. Yang sulit adalah kita lebih condong membela ego, kepentingan kita sehingga kita harus berbuat adil, tidak dapat kita lakukan demi kepentingan kita tadi. kalau di sekolah banyak contoh kasus.

– ada guru yang memberikan nilai lebih kepada murid yang ikut les dengannya secara privat
– ada murid yang diterima walau tidak memenuhi passing grade hanya karena sudah memberikan sesuatu
– guru tidak objektif dalam memberikan nilai karena tidak suka pada seorang murid walau ujiannya bagus
– ada mahasiswa yang menilai jelek dosennya karena tidak suka dengan dosennya, walau kinerja dosen tersebut cukup baik di kelas
– dan banyak contoh lainnya yang tidak hanya melibatkan dosen/guru dan mahasiswa/murid, tapi juga guru dan kepala sekolah, dosen dan koleganya, antar siswa atau antar stakeholder lainnya.

Dalam lingkungan yang lebih luas juga sama. Di lembaga yang seharusnya terhormat karena berisi dengan para wakil rakyat, kepentingan kelompok begitu mendominasi sehingga cara berpikir dan bertindak sudah tidak berdasarkan apa yang pantas dan seharusnya, tapi bagaimana agar kepentingan kelompok tercapai. praktek “tebang pilih” dalam menyelesaikan masalah, menerima atau menolak usulan pemerintah dengan dasar suka tidak suka, lebih banyak menuntut hak (gaji, tunjangan, fasilitas dsb) daripada kewajiban (hadir dalam rapat, meneruskan aspirasi rakyat, mensahkan UU dsb) dan banyak contoh lainnya yang menunjukkan keadilan belum menjadi value bagi sebagian wakil rakyat.

Di jalan, apalagi. pengendara motor tidak malu dan segan mengambil jalan (hak) orang lain dari arah yang berlawanan, padahal jelas dua garis putih penuh di tengah jalan. Aksi menyerobot ketika sedang macet di jalan, berjalan melawan arah, parkir tidak pada tempatnya, berhenti di mana saja secara tiba-tiba adalah contoh-contoh kecil bagaimana kita semua mempraktekkan nilai yang kita anut. Polisi yang sudah tidak memiliki kekuasaan lagi untuk menghentikan semua pelanggaran pun menjadi bukti bahwa keadilan semakin sulit untuk kita peroleh di negara kita yang konon memiliki pancasila (sila kelima).

Pendek kata, sebaik apapun pendidikan dalam keluarga akan menghadapi  tantangan yang luar biasa. Waktu yang sedikit di keluarga menjadi tidak cukup kuat untuk menanamkan fondasi yang terus digempur contoh-contoh di atas yang terjadi di luar rumah. Hanya dengan izin Allah melalui komitmen pemimpin, aparat yang amanah, banyaknya masyarakat yang peduli kita bisa memperbaiki situasi ini. Tapi walau bagaimana pun, konsep perbaikan pada tulisan sebelumnya harus tetap dilakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: