Integritas (3)

Nilai (value) ketiga dalam integritas adalah percaya (trust). Trust berarti percaya, berharap dan yakin tentang sesuatu. Jika kita memiliki trust terhadap seseorang maka kita percaya, berharap dan yakin bahwa seseorang itu melakukan/tidak melakukan sesuatu. Orang tua yang percaya pada anaknya tidak akan memonitor secara berlebihan segala tindak tanduk anaknya di luar rumah, karena percaya bahwa anaknya sudah dewasa dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Seorang istri memberikan trust kepada suaminya dalam bekerja berarti dia percaya bahwa suaminya akan bekerja dengan baik, mencari nafkah untuk keluarga tanpa melakukan hal-hal yang tercela.

Jika di lingkungan kampus, maka trust ini adalah syarat untuk terjadinya pengembangan ilmu pengetahuan. Mahasiswa yang tidak percaya atas apa yang diajarkan dosennya, tidak percaya atas kurikulum yang dijalankan program, maka ybs tidak akan ke mana-mana. sebaliknya dosen yang tidak percaya bahwa mahasiswanya dapat belajar mandiri, memiliki potensi yang besar, mampu bertanggung jawab dsb akan membuat proses pembelajaran terganggu atau tidak maksimal. kasus trust ini tidak hanya antara mahasiswa dan dosen, tetapi juga antar mahasiswa, antar dosen, mahasiswa dan administrasi atau antar elemen lain dalam dunia pendidikan. Rasanya masih ada kita temui dosen yang tidak mau membagikan slide kuliahnya karena khawatir ilmunya dicuri mahasiswa atau dosen lain. bisa dibayangkan betapa tidak kondusifnya suasana pembelajaran.

Hal yang sama terjadi di tempat lain. Di gedung DPR yang terhormat, kasus tidak ada trust sesama anggota cukup menonjol dan memang ketika kepentingan individu atau golongan sudah bermain, maka trust tidak akan pernah bisa ditumbuhkan. Entah pada situasi seperti apa yang memungkinkan sesama anggota dapat saling percaya. setiap isu selalu dibalas dengan statement yang selain tidak saling mendukung, juga akan menimbulkan isu baru. wah runyam pokoknya.

Dalam islam, trust itu dekat dengan husnuzhan (baik sangka). Dalam kehidupan sehari-hari kita kenal juga cara berpikir positif. Baik husnuzhan dan berpikir positif dapat menjadi media melatih diri untuk menumbuhkan trust. Tapi syaratnya harus terjadi secara dua arah antar pihak yang terlibat. Kalau hanya 1 arah, maka trust akan hanya tinggal kenangan, walau bagi pihak yang sudah berhusnuzhan dan berpikir positif tidak pernah rugi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: