Integritas (4)

Nilai lain yang terkandung dalam integritas adalah Respect (menghargai orang lain). Sebagaimana kata orang bijak, bahwa orang akan menghargai kita sebagaimana kita menghargai orang lain. Tidak sulit membuktikan ucapan ini. Silakan coba memperlakukan orang lain dengan cara yang tidak disukainya, umumnya balasan yang kita terima akan sesuai dengan apa yang kita lakukan. Hukum aksi reaksi berlaku di sini. Barangkali penting untuk kita ketahui bersama praktik apa saja yang sekiranya terkait dengan nilai ini.

Di lingkungan kampus, ada banyak hal yang menyangkut pelaksanaan nilai respect ini. Kita bisa mulai dari kelas, bahwa setiap orang yang bicara di kelas adalah orang yang layak mendapat perhatian. Tapi begitu sering kita lihat dosen bicara, mahasiswa juga bicara di belakang. Ketika temannya menyampaikan pendapat, yang lain juga bicara atau mengeluarkan respon tanpa aturan. Tindakan semacam ini menunjukkan kita belum dapat menghargai orang lain. Di luar kelas juga sama, setiap orang boleh berpendapat dan menyampaikan pemikirannya, hendaknya kita juga dapat menghargai hal itu tanpa harus menyerang atau berseteru ketika pemikirannya berseberangan dengan kita.

Bahkan saya baru disadarkan juga bahwa kehadiran kita dalam kelas merupakan bentuk penghargaan kita kepada orang lain. Bayangkan ada mahasiswa yang datang jauh-jauh dari rumahnya, terengah-engah agar tidak terlambat, eh ternyata dosennya datang terlambat. Begitu juga sebaliknya, dosen sudah mempersiapkan diri untuk mengajar di kelas, ternyata mahasiswanya lebih memilih bolos kuliah. Hal semacam ini mengindikasikan bahwa kita tidak menghargai orang lain. Datang terlambat pun pada dasarnya menunjukkan hal yang sama, termasuk juga terlalu sering keluar masuk kelas, dering HP, nyeletuk dsb.

Di kehidupan yang lain pun sama saja. Ketika rapat, kita masih senang melakukan chatting, mengerjakan pekerjaan lain, membalas sms, dan lain kegiatan yang menunjukkan bahwa kita tidak mendengarkan pembicaraan dalam rapat. Datang terlambat dalam rapat, mengajukan pendapat tanpa ijin moderator, hingga mencaci-maki dalam rapat. Bukankah kita cukup sering mendapat tontonan semacam ini dari para wakil rakyat, bahkan mungkin sampai baku hantam.

Di jalan apalagi, sedih kalau kita sudah melihat perilaku kita semua di jalanan. Tidak ada rasa respect sama sekali. Polisi sudah tidak ada nilainya di mata pengendaranya. Pejalan kaki sudah tidak punya lagi akses lagi pada trotoar karena disabet oleh motor, begitu pun dengan sepeda. Zebra cross sudah tidak ada artinya lagi, bahkan lampu lalu lintas bak lampu pajangan di sepanjang jalan. Jadi kalau boleh berkaca, masih confident-kah kita menyatakan diri kita memiliki integritas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: