Idul Adha 1431H: Momentum berubah

Walau sebelumnya saya sempat merasakan hambarnya idul adha kali ini, karena ketika ingin berlebaran tanggal 16 november 2010 ternyata kampus belum libur – malam lebaran masih ke dokter gigi, pagi ini saya merasakan sesuatu yang berbeda dan berkesan. Mulai dari Haji-nya sendiri sebagai tema sentral idul adha sampai suasana batin terasa lebih mengigit daripada tahun-tahun sebelumnya. Alhamdulillah, Bismillah, Insya Allah

Seminggu lalu saya berbicara dengan kolega tentang Haji. “Kapan ya saya berangkat haji”, begitu kira-kira terawangan saya menyikapi idul adha yang tinggal seminggu lagi. Kolega tadi hanya berkata simple,”Daftar dulu, baru berpikir untuk naik haji”. Dari situ saya mulai berpikir serius mengenai haji ini. Apalagi sebulan sebelumnya, di Manado, menjelang malam saya diskusi dengan kolega dari Unhas yang menceritakan pengalaman umrah dan hajinya, sungguh cerita yang mengesankan. “Daripada mengajak keluarga liburan ke china, jepang atau negara lain, sebaiknya Pak Mursyid ajak keluarga Umrah atau Haji”, begitu sarannya.

Akhirnya selasa kemarin saya datang ke BNI sebelah. setelah bertanya, saya baru paham mekanisme untuk berhaji. jadi setiap orang yang mau Haji harus membuka tabungan haji. Kecuali memiliki uang yang banyak dan memenuhi minimal persyaratan PORSI, kita semua harus membuka rekening haji dan mulai menabung. tadinya saya pikir dengan kuota sekitar 3 tahun, saya bisa berencana haji 3 tahun mendatang. Rupanya kita harus memiliki tabungan sebesar nilai PORSI dulu untuk bisa masuk dalam daftar tunggu Haji. Katanya sebelum ini PORSI itu sebesar 20 juta. Tapi mulai tahun ini PORSI menjadi 25 juta. Dengan bantuan tabungan haji dari bank, kita dibantu untuk disiplin menabung dalam jumlah tertentu sampai uang kita mencapai PORSI tersebut, baru kemudian masuk daftar dan dari situ kita bisa tahu kapan berangkat. Untuk bandung, katanya maksimum 3 tahun masa tunggunya. Bagaimana dengan istri? kalau memang mau berangkat berdua, maka tabungannya pun harus dua, alias masing-masing. Alhamdulillah, jadi tahu sekarang. so buat kawan-kawan yang masih muda, mulai saja menabung haji, sedikit tidak masalah, karena semuanya dapat kita rencanakan. Selasa itu, saya punya tabungan haji, amin-kan doa hamba ya Allah.

Mengapa harus Haji? ini cerita yang lain lagi. KHutbah ied kemarin begitu mendalam. Ustadnya tidak terkenal (seperti para selebritis aja). tapi isinya entah kenapa begitu mengena. Ada 2 cara kita menghadap Allah swt, secara sukarela dan dipaksa. Secara sukarela artinya kita mendatangi Allah dengan kesadaran sendiri, yaitu dalam ibadah Haji. Sedangkan dipaksa, artinya Allah swt memanggil kita lewat kematian. Walaupun yang terakhir ini pasti terjadi, alangkah indahnya jika kita sempat mendatangi Allah swt dengan kesadaran sendiri, tobat dan minta ampun dari segala kesalahan. Selayaknya orang yang sudah mensucikan dirinya setelah bertemu dengan Allah swt, kegiatannya setelah itu harus suci dari maksiat kepada Allah swt.

saya merasa Haji ini menjadi keharusan, wajib. Bukan semata-mata karena memang diwajibkan oleh Allah dan rasul-Nya sekali seumur hidup bagi yang mampu, tapi karena kita – bangsa kita- membutuhkan sarana pensucian diri. Sudah terlalu banyak dosa bangsa ini sehingga rangkaian peringatan Allah swt tidak cukup membuat kita sadar atas perbuatan kita. ya kita semua, bukan hanya Gayus dan antek-anteknya, bukan hanya para penyembah berhala kepala kerbau, bukan hanya para koruptor uang waktu dan kepercayaan rakyat.

Bagaimana dengan prasyarat mampu? kan tidak kita semua mampu? sungguh, setelah menonton “Emak ingin naik haji” sampai jam 1 dinihari tadi, saya merasa tidak pantas kita merasa TIDAK mampu. walaupun itu hanya sebuah film, tapi saya yakin ada banyak “Emak-Emak” di lingkungan kita. Mereka menanti entah berapa lama untuk naik haji, menabung sepeser demi peser, dengan keyakinan bahwa suatu saat akan terkumpul biaya haji yang tergolong besar itu. Masak kita bilang, kita belum mampu? malu rasanya setelah menonton film ini. Apalagi melihat karakter Zainal yang begitu ingin membantu Emaknya untuk naik haji, sampai-sampai sempat terlintas untuk mencuri. Alhamdulillah digagalkan oleh Allah lewat skenario sutradaranya. Ada nggak ya spirit itu dalam diri kita?

Terima kasih ya Allah atas kado Idul Adha tahun ini. Semoga beberapa tahun mendatang, kado terindah bertemu dengan-Mu di KabahMu dapat Engkau kabulkan, amin, Insya Allah.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: